Milisi pemberontak Houthi Yaman meluncurkan rudal balistik ke arah kota suci Makkah pada hari Kamis. Namun, militer koalisi Arab yang yang dipimpin Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan rudal Houthi yang nyaris menghantam Kota Makkah itu.
Serangan Houthi dengan target Kota Makkah itu dikonfirmasi militer Saudi yang disiarkan kantor berita negara Saudi, SPA, Jumat (28/10/2016).
Menurut pernyataan militer Saudi, pasukan koalisi Arab menghancurkan rudal balistik Houthi yang sudah melesat 65 km (40 mil) dari kota suci Makkah. Serangan rudal Houthi tidak menimbulkan kerusakan terhadap situs suci umat Islam.
Makkah seperti diketahui merupakan rumah bagi berbagai situs suci dalam Islam, termasuk Masjidilharam.
Sementara itu, kelompok Houthi dalam sebuah pernyataan hari Jumat, mengkonfirmasi tembakan rudal balistik Burkan-1 ke wilayah Arab Saudi. Namun, Houthi mengklaim tembakan rudal balistik mereka diarahkan ke Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, bandara tersibuk Kerajaan Arab Saudi.
Kelompok Houthi telah menguasai sebagian wilayah Yaman utara termasuk Ibu Kota Sanaa bersama dengan sekutunya para loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.
Saat ini negara kita, Indonesia telah giat-giatnya mengembangkan produksi persenjataan. Selain untuk memperkuat pertahanan dan ketahanan nasional ternyata banyak senjata buatan orang Indonesia yang diminati oleh negara lain. Dan berikut adalah 6 diantaranya :
1. 260 Kepala roket 'Smoke Warhead' diekspor ke Cile
Salah besar jika Anda memandang sebelah mata senjata produksi dalam negeri. Sebab, senjata yang dihasilkan putra putri terbaik bangsa nyatanya dilirik oleh negara asing. Rencananya, akhir Maret ini 260 unit kepala roket jenis smoke warhead segera diekspor ke Cile. Alutsista itu merupakan buatan PT Sari Bahari dari Malang, Jawa Timur. Kualitas Smoke Warhead diakui mengalahkan produk serupa buatan pabrikan sejumlah negara maju, di antaranya; Amerika Serikat dan Rusia. Smoke Warhead adalah kepala roket dengan diameter 70 mm dan cocok dipasangkan dengan roket pasangan pesawat seperti Super Tucano.
Smoke Warhead akan memberikan informasi kepada pilot soal posisi jatuh roket dengan cara mengeluarkan asap selama dua menit saat roket jatuh ke tanah. Smoke Warhead telah diproduksi sejak tahun 2000. Hingga kini, sudah lebih dari 3.000 Smoke Warhead yang dipesan TNI.
2. Pesawat CN 235-MPA diekspor ke Korsel
Pesawat CN 235 jenis Maritime Patrol Aircraft (MPA) produksi PT Dirgantara Indonesia menjadi salah satu Alutsista yang diminati negara lain. Pada 2011-2012 lalu, PT DI memenuhi permintaan Korea Selatan yang memesan empat pesawat itu melalui kontrak yang ditandatangani pada 2008 dengan nilai total USD 94,5 juta. Pesawat yang merupakan modifikasi dari CN-235 itu, cocok untuk melakukan patroli perairan di samping bisa difungsikan untuk angkutan personel. Di tahun yang sama, PT DI juga mengekspor pesawat CN 235 jenis pesawat angkut militer VIP, ke Senegal, Afrika. CN-235 MPA Versi Patroli Maritim, dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi (mulai mendekati fase operasional dan hadir dalam Singapore Airshow 2008). Pada Desember 2009 diumumkan bahwa TNI AL membeli 3 unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki 6 buah pesawat MPA sampai tahun 2014. CN-235 MPA menggunakan sistem Thales AMASCOS, radar pencari Thales/EADS Ocean Master Mk II, penjejak panas (thermal imaging) dari Thales, Elettronica ALR 733 radar warning receiver, dan CAE's AN/ASQ-508 magnetic anomaly detection system. Pesawat ini juga akan mengakomodasi Rudal Exocet MBDA AM-39 atau torpedo ringan Raytheon Mk 46.
3. Fast Patrol Boat diekspor ke Timor Leste
Putra putri terbaik bangsa di PT PAL telah berhasil membuat kapal perang jenis patroli cepat (Fast Patrol Boat). Rupanya, Alutsista buatan dalam negeri itu telah membuat negara tetangga, Timor Leste, kepincut. Pada 2011 lalu, Pemerintah Timor Leste memutuskan memesan dua kapal patroli cepat senilai USD 40 juta. Kapal tersebut akan digunakan untuk melindungi wilayah teritorial Timor Leste.
Konstruksi lambung dan anjungan kapal yang dibuat dari bahan alumunium mampu menahan gelombang tinggi dan lebih lincah saat bermanuver. Kapal patroli cepat ini mempunyai kecepatan maksimum 30 Knot, walaupun saat official trial bisa mencapai 33 Knot.
Kapal ini memiliki dua baling-baling dan dilengkapi Radar NavNet yang mampu mengintegrasikan data-data peralatan sistim navigasi dan komunikasi seperti echo sounder, speed log dan GPS ke dalam peta elektronik dan sistem radar.
4. Peluru buatan PT Pindad diminati Singapura hingga AS
PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) selama ini memasok kebutuhan peluru TNI-Polri. Peluru buatan Pindad antara lain berkaliber 5,56 mm, 7,62 mm dan 9 mm.
Namun, selain untukTNI-Polri, peluru yang dihasilkan PT Pindad juga diekspor keluar negeri. Peluru-peluru tersebut dikirim ke Singapura, Filipina, Bangladesh, hingga ke Amerika Serikat (AS).
Untuk Singapura, sudah beberapa tahun belakangan negara singa putih itu telah memesan 10 juta peluru. Sementara, pada 2009 lalu, satu juta peluru telah diekspor ke AS dengan nilai transaksinya mencapai USD 200.000.
Peluru buatan Pindad tersebut tentu bukan sembarangan. Sebab, produk dalam negeri itu telah melalui uji kelayakan badan internasional, seperti semua produk Divisi Amunisi yang telah lulus pengujian standar NATO. Demikian juga telah mendapatkan sertifikat ISO 9001 dari SGS Yearsly-International Certification Services Ltd, Inggris pada tahun 1994.
5. Panser Anoa diekspor ke Oman dan Malaysia
Panser Anoa buatan PT Pindad menjadi salah satu Alutsista yang paling laris dijual. Pada tahun 2008, TNI memesan 154 buah Panser Anoa berbagai tipe. Untuk tahun 2011 TNI memesan 11 Panser Anoa tipe APC dan tahun 2012 TNI memesan 61 unit.
Tak hanya dalam negeri, Panser Anoa juga diminati negara asing. Untuk Panser jenis Anoa 6?6 juga dipesan oleh Kerajaan Oman. Malaysia juga memesan hingga 32 unit panser Anoa. Panser bermesin Renault ini memang sudah teruji di negara-negara gurun seperti Libanon saat digunakan oleh pasukan perdamaian PBB.
Kualitasnya sesuai dengan standarNATOpada level III atau level yang tingkat ketahanannya terhadap serangan sudah lebih baik dari level II yang diproduksi di China dan India.
Belum lama ini, Pindad mengeluarkan Panser Anoa jenis baru. Anoa spesies baru ini mengusung Kanon kaliber 20 mm dan berjenis berjenis IFV (Infantry Fighting Vehicle). Panser ini didesain untuk mengantisipasi kebutuhan Batalyon Infantri Mekanis.
Dengan demikian, Panser Kanon 90 mm nantinya dikonsentrasikan untuk Batalyon Kavaleri, sementara Panser Kanon 20 mm untuk batalyon. Selain mengusung senjata utama kaliber 20 mm, Panser jenis ini juga mampu menyandang senapan mesin sedang kaliber 7,62 mm dan mampu menampung lima orang, yang terdiri dari tiga kru Ranpur dan dua personel pasukan.
6. Senapan Pindad diminati Singapura hingga Afrika
Selain Panser Anoa, sejumlah senjata buatan Pindad juga banyak dipesan oleh negara luar. PT Pindad mampu memproduksi berbagai jenis senjata antara lain; jenis senapan serbu (SSI-VI, SS2-V2, SS1-V3, SS1-V5), Senapan sniper (SPR-1) pistol (P-1, P-2), revolver (R1-V1, R1-V2, RG-1 (tiper A), RG-1 (tipe c), senapan sabhara/polisi (Sabhara V1 and Sabhara V2), senjata penjaga hutan, pistol profesional magnum, peluncur granat, dan pelindung tubuh (personal body protection).
Produk-produk yang dihasilkan itu banyak dipesan oleh negara-negara di luar negeri. Di antaranya adalah sebuah jaringan supermarket khusus olahraga berburu, camping, dan memancing bernama Cabelas’s, yang merupakan pembeli terbesar produk-produk buatan Pindad.
Senapan serbu SS-2 merupakan produk langganan negara-negara Afrika seperti Zimbabwe, Mozambik, dan Nigeria. Selain itu, Thailand dan Singapura juga kerap memesan senjata tersebut.
TNI tengah merencanakan pembangunan pangkalan udara di Kawasan Indonesia Timur seperti Biak, Morotai dan Merauke (photo : Kaskus Militer)
JAKARTA (BeritaTrans.com) – Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, pihaknya tengah merencanakan pembangunan pangkalan udara di Kawasan Indonesia Timur seperti Biak, Morotai dan Merauke. Pasalnya, wilayah udara di Jawa dianggap sudah terlalu padat dengan estimasi 1200 penerbangan setiap hari yang melalui Pantai Utara.
“Ini yang tidak benar, maka dengan demikian untuk melancarkan penerbangan untuk ekonomi juga dan untuk pilot setiap saat bisa terbang dan berlatih, maka akan kami kembangkan (pangkalan udara). Ada Biak ada Morotai, ada Merauke dan sebagainya,” kata Gatot di Kantor Presiden, Jakarta sebagaimana dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Rabu, 24 Februari 2016.
Armada pasukan tempur udara
Selama ini, pangkalan pesawat TNI AU di Pulau Jawa antara lain berada di Madiun, Yogyakarta dan Malang. Hal tersebut menunjukkan bahwa memang Jawa merupakan daerah pusat kekuatan TNI.
“Kami diperintahkan mengadakan observasi, analisa yang terbaik dimana di antara pangkalan-pangkalan itu, kemudian kami akan buat rencana,” ujarnya menambahkan.
Sementara wilayah timur Indonesia masih relatif kosong. Hanya, masih perlu penyesuaian pesawat misalnya untuk kebutuhan peralatan yang akan sesuai dengan wilayah lepas landas dan pangkalan udara nantinya. Sementara dengan alasan efektivitas penggunaan anggaran, TNI berencana akan membangun pangkalan tersebut sendiri.
Selain menjelaskan soal penambahan pangkalan udara, Gatot Nurmantyo juga menyampaikan adanya perubahan perbatasan pulau-pulau terdepan Indonesia. Salah satu contohnya perbatasan Indonesia dengan Australia yang berubah setelah Timor Timur menjadi negara sendiri yaitu Timor Leste.
Situasi ini menurut Panglima TNI harus disikapi dengan adanya penjagaan ketat di perbatasan, antara lain melalui pengembangan kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut di kawasan itu. “Perlu ada pelabuhan lagi di sana.” (viva).
F-16V merupakan generasi keempat dari lini produk F-16. Pesawat tempur ini memiliki panjang 15 meter dengan tinggi 5 meter dan bentang sayap 10 meter.
F-16 Viper merupakan pesawat tempur jenis F-16 generasi keempat. F-16 Viper memiliki sistem radar terbaru, Scalable Agile Beam Radar.
Pesawat tempur yang mampu terbang dengan kecepatan maksimal 2.414 kilometer per jam ini juga dapat mencium gelombang listrik dari luar pesawat. Sensor F-16 Viper yang terhubung dengan program komputer memungkinkan pilot untuk langsung menavigasi secara otomatis.
F-16 Viper memiliki beberapa fitur unggulan sebagai berikut :
A. Teknologi kontrol pesawat yang terintegrasi.
F-16V "Sengaja dirancang dual stick (sebelah kanan dan kiri) agar pilot tidak mengalami kesulitan dan kesusahan dalam berpindah tangan."
Pada bagian kanan stick itu, terdapat dua controller yang berfungsi untuk melepaskan peluru dan menembak lawan. Jet tempur ini mampu melepaskan 20 peluru dan menembakkan 6 misil atau roket sekaligus dengan sekali tekan.
"Sementara di stick bagian kiri, ada pointer yang bekerja seperti mouse. Ini yang memudahkan pengemudi untuk mengarahkan pesawat (air control)
B. RADAR
Radar SABR (Scalable Agile Beam Radar) APG-83 setipe dengan radar yang digunakan di pesawar siluman F-35
Randy Howard, selaku Business Development F-16 Lockheed Martin mengatakan di hadapan media, termasuk KompasTekno, bahwa F-16V yang ditawarkan kepada Indonesia ini telah memiliki upgrade avionik dan sistem radar paling canggih yang dimiliki generasi F-16.
Radar yang menjadi jawara pada Viper adalah radar AESA (active electronically scanned array) yang dapat mempertahankan lebih dari 20 target musuh. Radar ini setipe dengan radar yang digunakan di pesawar siluman F-35 hanya saja beda versi. Jenis radar Viper sedikit lebih canggih dan memiliki kemampuan untuk membidik 3 sasaran baik di darat, udara, dan laut.
Dijelaskan Randy, sistem radar milik F-16V bisa menjejak target udara dan darat secara bersamaan. Dengan demikian, F-16V bisa berperan sebagai pesawat "multirole" baik untuk misi udara-udara atau udara-darat (Air-to-Air dan Air-to-Ground).
Selain itu, berkat dukungan radar SABR (Scalable Agile Beam Radar) APG-83 yang dikembangkan bersama dengan Northrop Grumman, F-16V dikatakan Randy memiliki mode maritim khusus untuk patroli wilayah perbatasan di laut, yang merupakan sebagian besar wilayah Indonesia.
Radar ini juga diklaim Randy memiliki resistensi tinggi terhadap jamming, peningkatan tracking target, dan jangkauan deteksi target yang lebih jauh dibanding generasi F-16 sebelumnya.
C. KOMPUTER
Peningkatan mission computer pesawat, vehicle system, struktur pesawat, kokpit dan sistem peperangan elektronik (electronic warfare system)
Kelebihan Viper juga ada pada peningkatan mission computer pesawat, vehicle system, struktur pesawat, kokpit dan sistem peperangan elektronik (electronic warfare system) di banding blok F-16 sebelumnya. F-16V ini disebut sebagai generasi selanjutnya dari F-16 yang memanfaatkan infrastruktur berkesinambungan di dunia.
"Karena itu, Indonesia bisa menjadi operator pertama generasi F-16 tercanggih yang kami miliki," ujar Randy saat ditemui di Jakarta, Rabu (7/10/2015).
Varian F-16V juga memiliki tanki bahan bakar tambahan (CFT/Conformal Fuel Tanks) yang berada di punggung pesawat, sehingga menambah daya jelajah pesawat tanpa mengorbankan jumlah persenjataan yang bisa dibawa.
Biasanya, tanki bahan bakar tambahan yang dibawa F-16 menggunakan salah satu cantolan misil yang ada di sayap atau perut pesawat.
Dengan memiliki CFT di punggung, maka cantolan-cantolan tersebut tetap bisa dimaksimalkan untuk membawa berbagai sistem persenjataan.
Karena merupakan pesawat dengan mesin jet tunggal, Lockheed Martin mengklaim F-16V lebih irit dibanding pesawat jet bermesin ganda, seperti Sukhoi Su-35 yang saat ini juga diminati oleh TNI AU.
Menurut Lockheed Martin, F-16V memiliki biaya perawatan yang lebih rendah dibandingkan dengan pesawat tempur bermesin ganda tadi. Selain bisa mengurangi biaya produksi mesin, juga mengurangi konsumsi bahan bakar. Mesin yang digunakan oleh F-16V juga bisa dipakai terbang (air time) lebih lama sebelum harus dilakukan perawatan secara rutin. Di samping itu, mesin baru tersebut juga memiliki kesamaan fasilitas/logistik dengan mesin Pratt Whitney PW220 yang dipakai generasi F-16 sebelumnya.
Urusan commonality (kesamaan) ini juga menjadi jualan utama Lockheed Martin dalam menawarkan f-16 kepada pemerintah Indonesia. Kita tahu Indonesia telah mengoperasikan F-16 A/B Block 15 sejak tahun 1980-an sebagai bagian dari proyek Peace Bima Sena I.
Lalu gelombang kedua F-16 datang ke Indonesia pada 2014 lalu sebagai bagian dari kesepakatan Peace Bima Sena II.
"Indonesia telah menjadi operator F-16 sejak lama, tentu ini bisa mempercepat adopsi," ujar Randy.
Salah satu syarat yang diminta oleh pemerintah Indonesia dalam proyek peremajaan armada pesawat TNI-AU adalah transfer teknologi. Berbicara mengenai hal ini, Lockheed Martin mengaku saat ini belum ada pembicaraan banyak dengan pemerintah Indonesia, namun peluang itu ada dan terbuka lebar.
Transfer teknologi yang diminta oleh pemerintah RI bisa diwujudkan melalui produksi komponen atau suku cadang di dalam negeri, seperti komponen tanki bahan bakar tambahan (CFT) tadi.
Dalam hal ini, Lockheed Martin bisa menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat.
Sementara itu, Pengamat Militer Indonesia Muradi mengatakan, dua pilihan alusista tersebut memang punya kelebihan dan kekurangan. Namun, dia menilai bahwa F16 memang punya daya tarik lebih kuat. Daya tarik tersebut datang dari kemudahan perawatan unit pesawat.
"Tak bisa dipungkiri produk AS memang lebih mudah digunakan oleh konsumen Indonesia. Selain perawatannya yang lebih nyaman, proses alih teknologi bisa lebih gampang karena kerjasama diplomatik yang beragam antara dua negara. Mulai dari kerjasama pendidikan sampai ekonomi," terangnya.
Dia mencontohkan, perawatan Sukhoi yang harus mengganti mesin dengan yang baru pada periode tertentu. Hal tersebut membuat perawatan pesawat dari Rusia itu jauh lebih mahal daripada F-16v. Sedangkan, F16 sendiri punya 80 fasilitas perawatan di seluruh dunia.
"Memang, dari sisi teknologi Sukhoi unggul jauh. Pesawat ini merupakan salah satu dari sedikit jet yang bisa terbang vertikal. Tapi, kalau dipandang dari sisi konsumen memang lebih nyaman memakai produk F-16," terangnya.
Di sisi lain, dia juga meminta pemerintah berhati-hati saat membeli F-16. Pasalnya, pemerintah Indonesia pun sempat mengalami embargo alusista AS cukup lama. "Pemerintah harus menuntut jaminan tak akan ada embargo dalam jangka waktu yang panjang. Kalau ada jaminan itu. Saya rasa pembelian akan sepadan," imbuhnya.
TNI Angkatan Udara belum tertarik membeli pesawat tempur terbaru dari pabrikan Lockhead Martin, F-16 Viper. Angkatan Udara saat ini masih menanti Kementerian Pertahanan menyelesaikan perjanjian jual-beli pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi-35.
“Belum ada ketertarikan. Kami tetap pada Sukhoi-35. Selama ini juga belum ada tawaran ke kami karena itu domainnya Kemhan,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, kepada CNN Indonesia, Kamis (8/10).
1,500 lb (680 kg), limited to one centreline
and two wing pylons (Hawk T1)
wikipedia.org
VIDEO
NEW RADAR TECHNOLOGY FOR HAWK 100/200 FAMILY RWR Selex ES SEER Self Protection RWR Finmeccanica
FINMECCANICA – SELEX ES SEER SELF-PROTECTION SYSTEM IN
ACTION DURING NATO TACTICAL LEADERSHIP PROGRAMME
SEER demonstrated its ease of
integration and high performance during the four-week
exercise
The system was integrated onto two Czech Air Force L-159
Advanced Light Combat Aircraft in under three hours
SEER identified air, land and sea-based threats at
significant ranges with a high degree of accuracy,
operating with 100% reliability during the exercise
Finmeccanica – Selex ES demonstrated the ease of integration
and consistent performance of its SEER digital Radar Warning
Receiver (RWR) self-protection system during the recent NATO
Tactical Leadership Programme (TLP) at Los Llanos Air Base,
Albacete, Spain. The four-week exercise was held to increase
the effectiveness of ten participating air forces.
The system was integrated onto two Czech Air Force AERO
Vodochody AEROSPACE a.s. L-159 Advanced Light Combat
Aircraft in under three hours, making use of the existing
wiring and antennas that had previously serviced the legacy
Finmeccanica – Selex ES’ Sky Guardian 200. This demonstrated
the advantage of an open architecture approach and enabled
the Czech Air Force to fully concentrate on planning and
executing their flying programme. The L-159 installation was
a case study in easily retrofitting an aircraft with next
generation RWR capabilities.
SEER performed precisely as expected during exercises and
identified air, land and sea-based threats at significant
ranges with a high degree of accuracy. Specialist
Finmeccanica – Selex ES Electronic Warfare Operational
Support (EWOS) staff provided the Czech Air Force with
updated mission data files before each flight based on
information and intelligence that had been gathered during
the previous mission. This provided the pilots with a
greater and more accurate picture of the threat environment
enabling them to adapt to a variety of tasks during the
programme.
Notes to editors
SEER is an advanced digital Radar Warning Receiver (RWR). It
is a self-protection equipment used to detect the
radio-frequency signals of potentially hostile radars. The
system is highly sensitive, providing detailed parametric
and angle of arrival measurement of intercepted signals.
SEER is fully programmable, allowing users to configure its
operation with indigenous mission-dependent data. It is
offered in E-J configuration with the ability to upgrade to
C/D-K band capability. Its small-footprint, low-weight and
power characteristics ensure its suitability for a range of
new or upgrade programmes, including fixed and rotary wing
aircraft and Unmanned Aerial Systems (UAS).
Hardpoints: 2
× wing-tip Air-to-air missile launch rails, 6 × under-wing,
and 3 × under-fuselage pylon (2 of 3 for sensors) stations
with a capacity of Up to 17,000 lb (7,700 kg) of stores
Rockets: **4
× LAU-61/LAU-68 rocket pods (each with 19/7 × Hydra
70 mm
rockets, respectively)
4 × LAU-5003 rocket pods (each with 19 × CRV7 70
mm rockets)
4 × LAU-10 rocket pods (each with 4 × Zuni 127
mm rockets)
” Maka tatkala mereka MELUPAKAN PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” ( QS Al-An’aam : 44 )